Learning Is Fun

Posted: 14 Maret 2011 in serba serbi

Membangun metode pembelajaran menyenangkan bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri peserta didik.

Secara jujur harus diakui bahwa, proses pembelajaran yang didesain oleh pendidik saat ini masih mengebiri potensi peserta didik. Alih-alih berlangsung interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik, proses pembelajaran pun tak jarang berlangsung monoton dan membosankan.

Menurut Naim (2009:178), menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan akan memiliki hasil yang berbeda dengan pembelajaran yang dilaksanakan dengan penuh keterpaksaan, tertekan dan terancam. Pembelajaran yang menyenangkan akan mampu membawa perubahan terhadap diri pembelajar. Karena dengan membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dapat menghilangkan kecemasan-kecemasan yang selama ini dialami peserta didik seperti target kurikulum yang terlalu tinggi, iklim pembelajaran yang tidak kondusif, pemberian tugas yang sangat padat, serta sistem penilaian ketat dan kurang adil dapat menjadi faktor penyebab timbulnya kecemasan yang bersumber dari faktor kurikulum. Begitu juga, sikap dan perlakuan pendidik yang kurang bersahabat, galak, judes dan kurang kompeten merupakan sumber penyebab timbulnya kecemasan pada diri peserta didik yang bersumber dari faktor pendidik. Kurang terpenuhinya sarana dan pra sarana belajar yang sangat terbatas juga merupakan faktor-faktor pemicu terbentuknya kecemasan pada peserta didik yang bersumber dari faktor manajemen kampus.

Menurut Sieber dalam Sudrajat (2008:1), menghilangkan kesenangan dalam pembelajaran akan mengakibatkan kecemasan,  kecemasan dianggap sebagai salah satu faktor penghambat dalam belajar yang dapat mengganggu kinerja fungsi-fungsi kognitif seseorang, seperti dalam berkonsentrasi, mengingat, pembentukan konsep dan pemecahan masalah. Pada tingkat kronis dan akut, gejala kecemasan dapat berbentuk gangguan fisik (somatik), seperti: gangguan pada saluran pencernaan, sering buang air, sakit kepala, gangguan jantung, sesak di dada, gemetaran bahkan pingsan. Selain itu, masih muncul opini di kalangan segelintir pendidik bahwa pembelajaran dikatakan berhasil apabila suasana kelas berlangsung diam alias bisu dan peserta didik patuh dengan komando. Suasana kelas pun seringkali berubah mirip ruang karantina untuk “mencuci otak” peserta didik. Pembelajaran jauh dari dialog, bercurah pikir, apalagi dialog interaktif. Peserta didik yang kritis dan sering bertanya justru sering diberi stigma sebagai peserta didik “ngeyelan” dan cerewet. Peserta didik ber-”talenta” semacam itu tak jarang memancing adrenalin emosi pendidik yang tidak siap menjawab pertanyaan peserta didik. Dengan otoritas yang dimilikinya, pendidik bak “sipir penjara” yang tengah mengawasi perilaku narapidana (tengok di sini, di sana, dan di sini lagi).

Kondisi ini pun sejalan dengan pendapat Wibowo (2008:16), sekolah atau kampus menjelma menjadi monster mengerikan, selain itu sekolah atau kampus juga dianggap layaknya penjara bagi peserta didik. Masih menurut pendapat Wibowo (2008:17), sistem pendidikan kita memperlakukan siswa layak robot. Dengan pola yang kaku dan mengekang seperti itu, menganggap otak anak kosong, sehingga harus dijejali dengan berbagai hafalan materi pelajaran. Dalam sistem pendidikan seperti ini, yang terjadi tidak lebih proses duplikasi-duplikasi kepribadian dan pengetahuan pendidik terhadap peserta didiknya. Tidak ada pola baru yang menempatkan peserta didik sebagai “manusia unik” yang memiliki relung-relung batin yang berbeda. Individualitas peserta didik sebagai personal yang merdeka menjadi kabur, lantaran kuatnya “penjajahan intelektual” yang dilakukan pendidik. Sehingga menghilangkan kesenangan dalam pembelajaran yang mengakibatkan kecemasan akan melemahkan motivasi belajar.

Berhasilnya proses belajar dalam ruang kelas dapat terwujud dengan mengkondisikan lingkungan yang menyenangkan dan menggeser rangsangan yang tidak menyenangkan yang mungkin mempersulit belajar (Ozmon & Craver dalam Knight, 2007:200). Hal ini menunjukkan bahwa belajar tidak hanya bersifat intelektual, tetapi juga bersifat emosional, dimana kegembiraan dalam proses belajar dapat mempertinggi hasil belajar (Subari, 1994:95). Pendapat tersebut dipertegas oleh Freire (2003:82), bahwa pendidikan di awal abad 21  mengharuskan pendidik untuk menciptakan kesenangan melalui pendidikan, pendidikan yang menyenangkan tapi serius.

Penulis : Putu Widyanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s