Teori Belajar Humanistik

Posted: 14 Januari 2011 in Teori

Teori belajar humanistik, menjelaskan bahwa proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia (proses humanisasi). Teori belajar humanistik lebih menekankan bagaimana memahami persoalan manusia dari berbagai dimensi baik kognitif, afektif dan psikomotorik (Muchith, 2008:79).

Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik diantaranya adalah Carl Ransom Rogers. Carl Ransom Rogers dilahirkan di Oak Park, Illinois, pada tahun 1902 dan wafat di LaJolla, California, pada tahun 1987. Semasa mudanya, Rogers tidak memiliki banyak teman sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Dia membaca buku apa saja yang ditemuinya termasuk kamus dan ensiklopedi, meskipun ia sebenarnya sangat menyukai buku-buku petualangan. Ia pernah belajar di bidang agrikultural dan sejarah di University of Wisconsin. Pada tahun 1928 ia memperoleh gelar Master di bidang psikologi dari Columbia University dan kemudian memperoleh gelar Ph.D di dibidang psikologi klinis pada tahun 1931 (Yuly, 2008:1).

Pada tahun 1931, Rogers bekerja di Child Study Department of the Society for the prevention of Cruelty to Children (bagian studi tentang anak pada perhimpunan pencegahan kekerasan tehadap anak) di Rochester, NY. Pada masa-masa berikutnya ia sibuk membantu anak-anak bermasalah/nakal dengan menggunakan metode-metode psikologi. Pada tahun 1939, ia menerbitkan satu tulisan berjudul “The Clinical Treatment of the Problem Child”, yang membuatnya mendapatkan tawaran sebagai Profesor pada fakultas psikologi di Ohio State University, dan pada tahun 1942, Rogers menjabat sebagai ketua dari American Psychological Society (Yuly, 2008:1).

Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapis) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik assessment dan pendapat para terapist bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment kepada klien.

Menurut Rogers dalam Yuly (2008:1), yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya dosen memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:

  1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Mahasiswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
  2. Mahasiswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
  3. Pengorganisasian bahan pembelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi mahasiswa.
  4. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.

Menurut pendapat Djiwandono, (2004:183-186) Carl Rogers dalam bukunya yang sangat populer Freedom to Learn and Freedom to Learn for the 80s, menganjurkan pendekatan pendidikan sebaiknya mencoba membuat belajar dan mengajar lebih manusiawi, lebih personal dan berarti. Rogers menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip belajar humanistik yang penting, diantaranya ialah :

1. Keinginan untuk belajar

Seorang anak secara wajar mempunyai keinginan untuk belajar. Keingintauan anak yang sudah melekat atau sudah menjadi sifatnya untuk belajar adalah asumsi dasar yang penting untuk pendidikan humanistik. Dalam kelas anak diberi kebebasan untuk memuaskan keingintauan mereka, untuk mengikuti minat, menemukan jati diri serta apa yang penting dan berarti tentang dunia yang mengelilingi mereka. Contoh : saat siswa belajar tentang candi Borobudur, dengan buku dan cerita dosen,  mahasiswa akan kesulitan untuk mengetahui gambaran tentang candi tersebut, dengan adanya media pembelajaran mahasiswa dapat terpuaskan keingintauannya tentang candi borobudur lebih menyeluruh.

2. Belajar secara signifikan

Belajar secara signifikan terjadi ketika belajar dirasakan relevan terhadap kebutuhan dan tujuan siswa. Menurut pandangan Combs dalam Soemanto (2003:137), belajar di bagi dua proses yaitu pemerolehan informasi baru dan menurut selera mahasiswa. Jika mahasiswa belajar dengan baik dan cepat, humanis menganggap ini adalah belajar secara signifikan. Contoh : pikiran siswa yang belajar menggunakan komputer agar mereka bisa menikmati permainan (game). Siswa akan lebih baik dan cepat dalam belajar mengenai kehidupan ikan di dalam laut atau kehidupan singa di Afrika dengan kehadiran media pembelajaran di dalam kelas.

3. Belajar tanpa ancaman

Belajar yang paling baik adalah memperoleh dan menguasai suatu lingkungan yang bebas dari ancaman. Proses belajar dipertinggi ketika mahasiswa dapat menguji kemampuan mereka, mencoba pengalaman baru, bahkan membuat kesalahan tanpa mengalami sakit hati karena kritik dan celaan. Contoh : bosan dan jenuh merupakan salah satu ancaman terhadap mahasiswa dalam proses belajar terhadap mata kuliah yang tidak ‘menarik’ buat mereka, dengan menggunakan media pembelajaran proses belajar akan bervariasi dan ‘Hidup’ sehingga bosan dan jenuh bisa diatasi.

4. Belajar atas inisiatif sendiri

Belajar akan paling signifikan dan meresap ketika belajar itu atas inisiatifnya sendiri, dan ketika belajar melibatkan perasaan dan pikiran si pelajar sendiri. Penguasaan mata pelajaran penting, tapi tidak lebih penting dari pada kemampuan untuk menemukan sumber, merumuskan masalah, menguji hipotesis dan menilai hasil. Belajar atas inisiatif sendiri juga mengajarkan mahasiswa untuk mandiri dan percaya diri, mereka akan tergantung pada diri mereka sendiri dan kurang tergantung pada penilaian orang lain. Contoh : dengan media pembelajaran mahasiswa diberi kesempatan untuk belajar mandiri, pada tempat dan waktu serta kecepatan yang ditentukan sendiri (Miarso, 2005: 460).

5. Belajar dan berubah

Rogers mencatat bahwa mahasiswa pada masa lalu belajar satu set fakta ilmu statistik dan ide-ide. Dunia menjadi lambat untuk berubah dan apa yang dipelajari di sekolah cukup untuk memenuhi tuntutan waktu. Sekarang, perubahan adalah fakta hidup. Pengetahuan berada dalam keadaan yang terus berubah secara konstan. Belajar seperti waktu yang lalu tidak cukup lama untuk memungkinkan seseorang akan sukses dalam dunia modern. Apa yang dibutuhkan sekarang menurut Rogers, adalah individu yang mampu belajar dalam lingkungan yang berubah. Contoh : dengan penggunaan media pembelajaran pengetahuan yang terus menerus berubah dapat dipelajari siswa dengan baik dan cepat.

Menurut Rogers dalam Djiwandono (2004:187), ada strategi pembelajaran tertentu dan metode yang membantu dalam mempromosikan belajar melalui teori humanistik salah satunya memberi mahasiswa dengan berbagai macam sumber yang dapat mendukung dan membimbing pengalaman belajar mereka. Sumber dapat meliputi materi pelajaran, media, anggota masyarakat dan dosen.

Teori ini akan digunakan sebagai landasan analisis dalam membedah tentang upaya yang dilakukan pendidik dalam pembelajaran menggunakan media pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa terhadap mata kuliah bimbingan konseling (BK) Tahun Pelajaran 2009/2010 STAHN-TP Palangka Raya. Perlunya pengembangan pembelajaran berwawasan humanistik dimana dalam proses belajar harus dilakukan dengan cara menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, menggairahkan, memberi kebebasan mahasiswa dalam memahami dan menganalisis pengalaman atau teori yang dialamai dalam kehidupan (Muchith, 2008:90). Hal ini pun sejalan dengan amanat PP nomor 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), bahwa proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisifasi aktif, memberi ruang yang cukup untuk berprakarsa, kreatif dan memberikan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik.

Penerapan pendidikan humanistik dimaksudkan untuk membentuk insan manusia yang memiliki komitmen humaniter sejati, yaitu insan manusia yang memiliki kesadaran, kebebasan dan tanggung jawab sebagai insan manusia individu, namun tidak terangkat dari kebenaran faktualnya bahwa dirinya hidup ditengah masyarakat. Dengan demikian, ia memiliki tanggung jawab moral kepada lingkungannya, berupa keterpanggilannya untuk mengabdikan dirinya demi kesejahteraan masyarakat (Baharuddin,2007:23).

Penulis : Putu Widyanto

Komentar
  1. Fanadha Bintang mengatakan:

    very useful 4 me…. ijin copast mz… thanks

  2. paling suit itu adalah mengubah mind set

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s