Teori Motivasi Hedonisme

Posted: 14 Januari 2011 in Teori

 

Hedonisme berasal dari bahasa Yunani yaitu hedone yang berarti kesenangan/pleasure (Barten dalam Yurliani, 2007:15), dimana istilah ini sudah lama dikenal dan banyak tokoh yang telah melakukan kajian mengenai konsep hedonisme. Democritos, rekan sejawat Plato di jaman Yunani kuno, berpendapat bahwa manusia berprilaku untuk mendapatkan kesenangan dalam kapasitas yang optimal. Epicurus (341-270 SM) juga mempercayai bahwa kita dimotivasi memang untuk memperoleh kesenangan. Pendekatan semacam itu diistilahkan dengan hedonisme, dan bisa didefinisikan sebagai pencarian kesenangan dan penghindaran kesakitan atau kesedihan (Asnawi, 2002:50). Hal ini pun sejalan dengan pendapat Wexley & Yuki (2003:105), bahwa prinsip kuno hedonisme menyatakan bahwa orang berusaha untuk memaksimalkan kesenangan dan menghindarkan kesakitan atau kesusahan.

J.G. Beebe-Center, dalam bukunya The Psiychology of Pleasantness and Unpleasantness, menyebutkan bahwa kesenangan dan ketidaksenangan adalah ujung-ujung ekstrim pada suatu kontinum hedonik, dan ditengah-tengah di antara ujung-ujung rasa menyenangkan dan tidak menyenangkan itu terdapat zona netral di mana perangsangnya tidak menimbulkan rasa kesenangan dan rasa ketidaksenangan. J.G. Beebe-Center menyatakan bahwa sensasi kesenangan dan ketidaksenangan tergantung pada bagaimana organ perasa bereaksi terhadap perangsangan. Reaksi organ ini, jenis pertama disebut sebagai tekanan tajam yang menimbulkan perasaan menyenangkan, sedangkan jenis lain lagi disebut sebagai tekanan tumpul memunculkan perasaan tidak menyenangkan. Dengan demikian J.G. Beebe-Center percaya bahwa perasaan menyenangkan bersumber dari berbagai jenis aktivitas dalam sistem syaraf  (Asnawi, 2002:51).

Hal ini dapat dimisalkan tikus akan mendekati dan meminum cairan dengan rasa manis, ataukah akan menjauh apabila diperkirakan dari ciumannya terhadap air tersebut berasa pahit. Dalam hal proses belajar mengajar dapat di lihat bila dosen tidak bisa mengelola dengan baik lingkungan belajarnya agar interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisifasi aktif, memberi ruang yang cukup untuk berprakarsa dan kreatif.

Bila kondisi ini berlarut  peserta didik akan kesulitan untuk belajar, mereka akan merasa ruang kelas seperti dalam penjara. Tapi bila dosen bisa mengelola dengan baik lingkungan belajarnya, peserta didik akan termotivasi untuk belajar, kejenuhan dan kebosanan yang biasa mereka hadapi akan hilang menjadi pembelajaran menyenangkan yang mereka nantikan. Jadi peserta didik dalam proses belajar pun akan mencari ‘kesenangan’ dan menghindari ‘kesakitan’ dalam proses belajar, karena teori hedonik menekankan gagasan bahwa rangsangan selalu memiliki sifat motivasional (Asnawi, 2002:50).

Dengan kehadiran media pembelajaran di kelas dapat berguna untuk memudahkan proses belajar mengajar, dalam rangka mengefektifkan komunikasi antara dosen dan mahasiswa sehingga membantu dosen dalam mengajar dan memudahkan mahasiswa menerima dan memahami pelajaran (Syukur, 2005:123). Karena dengan adanya media pembelajaran, pelajaran menjadi lebih mudah dipahami, pelajaran jadi lebih menarik dan tidak membosankan buat peserta didik karena tampilan-tampilan media membantu menyusun kesan dan pemahaman anak didik terhadap dunia/lingkungan sekitarnya menjadi lebih menarik (Kellner,2003:161).

Penulis : Putu Widyanto

About these ads
Komentar
  1. iwan mengatakan:

    trimk infonya bro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s